Kiat Bisnis Ala Pengusaha Produk Otomotif Ternama, Mulai dari CEO Vkool sampai CEO TDR

Kiat Bisnis Ala Pengusaha Produk Otomotif Ternama, Mulai dari CEO Vkool sampai CEO TDR
Kiat Bisnis Ala Pengusaha Produk Otomotif Ternama, Mulai dari CEO Vkool sampai CEO TDR 
Hadir sejak 1995, V-Kool langsung menggebrak pasar Tanah Air dengan menjadi kaca film termahal dan juga tercanggih.

Bahkan konsistesi itu masih berlajut sampai sekarang, meski sudah banyak gempuran dari merek kaca film lain yang hadir saat ini.

Kira-kira, apa yang dilakukan V-Kool hingga tetap eksis dan semakin besar penjualannya di Tanah Air?

Dharma Eddie Salim, selaku Presiden Direktur PT V-Kool Indo Lestari pun memberikan kiat suksenya dalam menjalankan bisnis tersebut.

Menurutnya yang terpenting adalah harus terus berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada konsumen.

Jadi bukan hanya menjual produk saja, melainkan juga kualitas serta pelayanannya.

"Kenapa V-Kool bisa strong sampai sekarang, karena kami sangat perhatikan untuk product, service, dan experiece (pengalaman)," ujar bapak dari dua orang anak ini.

"Produk kami harus berbeda, yang utama adalah kualitas dan performa," lanjutnya saat berada outlet V-Kool yang terletak di kawasan SCBD, Jakarta.

Kemudian harus bisa menciptakan ide-ide kreatif, karena hal itu lah yang membedakan produk miliknya dengan merek lain.

Sebab, untuk mendapatkan kesan yang bagus dari konsumen bukanlah suatu perkara yang mudah.

Animo balap motor Tanah Air belakangan ini, dinilai menurun oleh sejumlah pelaku bisnis otomotif.

Salah satunya penilaian itu datang dari Teddy Hartono, CEO TDR, brand part peningkat performa motor, yang telah andil sebagai sponsor balap motor nasional sejak era 2000-an.

Menurut Teddy, penyebab penurunan tersebut adalah karena, jika dibandingkan pada era itu, kini masyarakat lebih memiliki ragam hiburan.

“Masyarakat kini cenderung ke lifestyle, semisal media sosial (untuk dijadikan hiburan). Anak-anak muda kini pun animo balapnya sudah jauh turun,” ujar Teddy.

“Selain itu, sirkuit yang kita miliki pun masih kurang (memadai). Ditambah, adanya sponsor yang ingin menguasai semua,” tambahnya.

Menurunnya animo masyarakat tersebut, tentu berimbas kepada TDR sebagai sponsor.

Namun, sebagai kepala perusahaan, Teddy tidak tinggal diam.

Salah satu upaya yang kini tengah dilakukannya ialah dengan meregenerasi tuner.

“Kini, TDR sedang mengumpulkan tuner-tuner kawakan. Nantinya, mereka akan mewariskan pengetahuannya kepada tuner muda yang memang berminat di dunia balap,” bilang Teddy.

Soal sirkuit, ia pun telah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan kualitas lintasan balap tersebut.

“Sekitar tahun 2013 – 2014, TDR dan beberapa rekan lainnya pernah ingin bangun sirkuit sekelas MotoGP di daerah Kulon Progo, Yogyakarta. Namun karena ada pihak lain yang memiliki niatan sama, yakni Kemenpora dan Dorna, kami pun mundur,” kata Teddy.

Teddy pun kini berharap pada pembangunan sirkuit di Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat yang akan segera dilakukan.

“Di Mandalika, ada sirkuit baru yang akan segera dibangun. IMI (Ikatan Motor Indonesia) pun sudah berbenah. Jadi, jadi mudah-mudahan semua jadi lebih baik,” harapnya.

Permasalahan sponsor, Teddy berpesan agar tidak mementingkan ego masing-masing dan mementingkan kemajuan balap nasional.

“Jangan maunya (keuntungan) jangka pendek, tapi tidak mau memikirkan (efek) jangka panjang. Imbasnya, kan, tim balap banyak yang sudah tidak ada karena sponsor pun sudah tidak masuk,” kata Teddy.

“Mari kita bangun iklim yang kondusif termasuk regulasinya. Mudah-mudahan, semuanya bisa berjalan,” pungkasnya.

0 Response to "Kiat Bisnis Ala Pengusaha Produk Otomotif Ternama, Mulai dari CEO Vkool sampai CEO TDR"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel